• Home
  • Transactions
    • Checkout
Sunday, November 1, 2026
  • Login
  • Register
asia.co.id
  • Home
  • Transactions
    • Checkout
No Result
View All Result
  • Home
  • Transactions
    • Checkout
No Result
View All Result
asia.co.id
No Result
View All Result
Home News Business Blockchain

Mengenal Anatomi Protokol Blockchain: Dari Proof of Work, Proof of Stake Hingga IBFT dan QBFT, Fondasi Baru Infrastruktur Ekonomi Digital

asia.co.id by asia.co.id
October 31, 2026
in Blockchain, Edukasi, Kripto, NFT, Tech
0
Mengenal Anatomi Protokol Blockchain: Dari Proof of Work, Proof of Stake Hingga IBFT dan QBFT, Fondasi Baru Infrastruktur Ekonomi Digital
0
SHARES
13
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Perkembangan teknologi blockchain tidak lagi sebatas perlombaan menciptakan mata uang kripto atau aset digital. Di balik ekosistem yang semakin luas tersebut, terdapat berbagai protokol yang menentukan bagaimana sebuah jaringan bekerja, memvalidasi transaksi, menjaga keamanan, mengelola aset, serta membangun kepercayaan tanpa harus selalu bergantung pada satu otoritas pusat. Memahami protokol blockchain menjadi langkah penting untuk melihat bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan dalam perdagangan, industri, pemerintahan, koperasi, tokenisasi aset dunia nyata, hingga pembangunan infrastruktur ekonomi digital.

Perdebatan mengenai blockchain selama ini sering terpusat pada Bitcoin, Ethereum, harga aset kripto, dan aktivitas perdagangan di bursa digital. Padahal, fondasi utama teknologi tersebut terletak pada protokol yang mengatur hubungan antara node, validator, mekanisme konsensus, smart contract, dan aplikasi terdesentralisasi. Perbedaan protokol bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menentukan karakteristik keamanan, kecepatan, biaya operasional, tingkat keterbukaan, serta model tata kelola sebuah jaringan.

Salah satu hal yang menarik adalah keberadaan protokol IBFT dan QBFT yang belum banyak dikenal masyarakat umum. Keduanya memperlihatkan bahwa blockchain tidak harus selalu mengandalkan aktivitas mining seperti Bitcoin ataupun mekanisme staking terbuka seperti yang digunakan Ethereum. Ada pendekatan lain yang memungkinkan sejumlah validator terotorisasi membangun kesepakatan bersama untuk menghasilkan blok dan memberikan finalitas transaksi.

Artikel ini mengulas berbagai kelompok protokol blockchain, mekanisme konsensus, contoh penerapannya, serta peluang pemanfaatan IBFT dan QBFT dalam pembangunan infrastruktur Web3 yang berorientasi pada ekonomi produktif.

1. Memahami protokol: bahasa dasar yang menggerakkan blockchain

Secara sederhana, protokol blockchain merupakan seperangkat aturan teknis yang menentukan bagaimana komputer-komputer dalam sebuah jaringan berkomunikasi, memproses transaksi, memverifikasi data, serta menyimpan catatan digital secara terdistribusi. Protokol menjadi fondasi yang memungkinkan seluruh peserta jaringan mengikuti aturan yang sama, meskipun mereka tidak berada dalam satu organisasi atau menggunakan satu komputer pusat. Tanpa protokol yang konsisten, sebuah blockchain tidak akan mampu menjaga integritas data maupun membangun kepercayaan antarpeserta.

Dalam perkembangannya, protokol blockchain tidak hanya terdiri atas satu jenis. Pengelompokannya bergantung pada aspek yang sedang dibicarakan. Ada protokol konsensus yang menentukan bagaimana jaringan menyepakati transaksi, protokol komunikasi yang menghubungkan node, protokol interoperabilitas yang memungkinkan komunikasi lintas jaringan, serta protokol aplikasi yang menjalankan layanan keuangan dan bisnis terdesentralisasi. Karena itu, tidak tepat apabila seluruh protokol blockchain dianggap sebagai kategori yang berada pada tingkatan teknologi yang sama.

Untuk memahami ekosistem tersebut, masyarakat perlu membedakan antara mekanisme konsensus, arsitektur jaringan, dan protokol aplikasi. Proof of Work dan Proof of Stake merupakan contoh mekanisme konsensus, sedangkan Layer 1 dan Layer 2 merupakan pengelompokan berdasarkan arsitektur. Sementara itu, DEX, lending, staking, dan tokenisasi RWA merupakan kategori aplikasi atau layanan yang dibangun menggunakan infrastruktur blockchain. Pemahaman ini penting agar pengembang maupun investor tidak salah menentukan teknologi ketika ingin membangun sebuah proyek Web3.

2. Proof of Work: fondasi blockchain melalui kekuatan komputasi

Proof of Work atau PoW merupakan mekanisme konsensus yang dikenal luas melalui jaringan Bitcoin. Sistem ini menggunakan kekuatan komputasi untuk menyelesaikan persoalan kriptografis yang diperlukan dalam proses pembuatan blok. Penambang atau miner bersaing menemukan nilai hash yang memenuhi persyaratan jaringan. Pihak yang berhasil memperoleh solusi dapat mengusulkan blok baru, yang kemudian diverifikasi oleh peserta jaringan lainnya. Proses tersebut membuat perubahan data memerlukan sumber daya komputasi yang signifikan.

Keunggulan PoW terletak pada model keamanan yang telah teruji dalam perjalanan panjang Bitcoin. Akan tetapi, mekanisme ini juga memiliki konsekuensi berupa kebutuhan energi dan perangkat keras yang relatif besar. Aktivitas mining membutuhkan investasi perangkat, sistem pendinginan, listrik, serta pemeliharaan infrastruktur. Karena itu, PoW lebih cocok untuk jaringan yang memang dirancang menggunakan kompetisi komputasi sebagai fondasi keamanan, bukan selalu menjadi pilihan paling ekonomis untuk setiap proyek blockchain perusahaan atau pemerintahan.

Contoh lain yang menggunakan mekanisme PoW adalah Litecoin dan Dogecoin. Keduanya mempunyai karakteristik teknis masing-masing, tetapi sama-sama memanfaatkan kompetisi komputasi dalam proses validasi blok. Keberadaan PoW memperlihatkan bahwa keamanan blockchain dapat dibangun melalui sumber daya fisik dan komputasi, bukan hanya melalui kepemilikan aset digital. Model ini juga menjadi titik awal untuk memahami mengapa generasi blockchain berikutnya mencari mekanisme yang lebih efisien.

3. Proof of Stake dan Delegated Proof of Stake: validasi melalui kepemilikan serta delegasi

Proof of Stake atau PoS menawarkan pendekatan berbeda dengan menjadikan aset yang dipertaruhkan atau dikunci sebagai bagian dari mekanisme keamanan jaringan. Validator dipilih berdasarkan aturan protokol yang berkaitan dengan stake dan faktor lainnya. Mereka bertugas mengusulkan serta mengesahkan blok. Apabila validator melanggar aturan tertentu, protokol dapat memberikan sanksi ekonomi melalui mekanisme yang dikenal sebagai slashing. Model ini mengurangi ketergantungan terhadap kompetisi komputasi intensif seperti pada Proof of Work.

Ethereum merupakan salah satu contoh paling terkenal dari blockchain yang menggunakan PoS setelah melakukan perubahan konsensus melalui The Merge pada September 2022. Cardano juga menggunakan pendekatan Proof of Stake melalui protokol Ouroboros. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa blockchain dapat mempertahankan keamanan jaringan dengan mekanisme yang berbeda dari mining konvensional. Namun, PoS juga memiliki tantangan, termasuk distribusi kepemilikan aset, konsentrasi kekuatan validator, dan desain insentif ekonomi agar jaringan tetap sehat.

Sementara itu, Delegated Proof of Stake atau DPoS mengembangkan pendekatan dengan memberikan hak kepada pemegang token untuk memilih sejumlah delegasi atau produsen blok. Delegasi terpilih kemudian menjalankan fungsi validasi sesuai aturan jaringan. EOS dan TRON merupakan contoh jaringan yang dikenal menggunakan model delegasi dalam mekanisme konsensusnya. DPoS dapat menghasilkan koordinasi yang lebih efisien, tetapi kualitas desentralisasinya sangat dipengaruhi oleh jumlah validator aktif, distribusi suara, dan transparansi proses pemilihan.

4. Proof of Authority: ketika identitas validator menjadi dasar kepercayaan

Proof of Authority atau PoA merupakan mekanisme konsensus yang mengandalkan validator terotorisasi. Berbeda dengan PoW yang mengandalkan komputasi dan PoS yang mengandalkan kepemilikan aset yang dipertaruhkan, PoA menggunakan identitas atau otoritas peserta sebagai bagian dari model kepercayaan jaringan. Validator harus memperoleh izin atau pengakuan berdasarkan aturan yang ditetapkan. Mekanisme ini banyak dipertimbangkan untuk kebutuhan perusahaan, lembaga, dan konsorsium yang membutuhkan lingkungan transaksi dengan peserta teridentifikasi.

PoA dapat menawarkan kecepatan produksi blok dan efisiensi operasional yang menarik karena tidak memerlukan kompetisi mining. Namun, model ini membawa konsekuensi tata kelola. Apabila kewenangan validator terlalu terkonsentrasi, jaringan berisiko menjadi terlalu sentralistis. Oleh sebab itu, penentuan pihak yang berhak menjadi validator harus disertai aturan yang jelas, mekanisme pengawasan, dan prosedur penggantian validator yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam implementasi Hyperledger Besu, QBFT dan IBFT 2.0 merupakan dua protokol konsensus yang berada dalam keluarga Proof of Authority. Keduanya dirancang untuk jaringan yang pesertanya saling mengenal atau telah memperoleh otorisasi, termasuk jaringan blockchain konsorsium. Hal tersebut memperlihatkan bahwa PoA bukan hanya satu protokol tunggal, melainkan pendekatan konsensus yang dapat memiliki beberapa implementasi teknis.

5. IBFT: membangun kesepakatan melalui toleransi kesalahan Byzantine

Istanbul Byzantine Fault Tolerance atau IBFT merupakan mekanisme konsensus yang dikembangkan untuk memungkinkan sejumlah validator mencapai kesepakatan meskipun terdapat peserta yang mengalami gangguan atau bertindak tidak sesuai aturan. Konsep Byzantine Fault Tolerance berasal dari persoalan klasik dalam sistem terdistribusi, yaitu bagaimana sekelompok komputer dapat mencapai kesepakatan ketika sebagian peserta tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Dalam blockchain, persoalan tersebut sangat penting karena keamanan jaringan tidak boleh bergantung pada asumsi bahwa semua node selalu berperilaku jujur.

IBFT 2.0 dikenal sebagai salah satu implementasi konsensus Proof of Authority untuk jaringan Ethereum permissioned. Mekanisme ini menggunakan proses komunikasi antvalidator melalui beberapa tahapan, termasuk proposal blok, pertukaran pesan persiapan, dan komitmen. Setelah jumlah persetujuan yang disyaratkan tercapai, blok dapat dimasukkan ke dalam blockchain dengan finalitas deterministik. Artinya, blok yang telah disepakati tidak bergantung pada kompetisi rantai terpanjang sebagaimana model blockchain Proof of Work.

Salah satu implementasi yang dapat dijadikan contoh adalah Hyperledger Besu, klien Ethereum yang mendukung IBFT 2.0. Selain itu, ekosistem GoQuorum juga menyediakan dukungan terhadap mekanisme konsensus IBFT. Hal ini menunjukkan bahwa IBFT bukan sekadar konsep akademis, tetapi telah tersedia dalam perangkat lunak yang dapat digunakan pengembang untuk membangun jaringan blockchain privat maupun konsorsium dengan kompatibilitas Ethereum Virtual Machine.

Keunggulan IBFT terletak pada kemampuannya memberikan finalitas transaksi dan toleransi terhadap sejumlah validator yang bermasalah. Namun, mekanisme ini memiliki batas skalabilitas karena pertukaran pesan antvalidator meningkat seiring bertambahnya jumlah peserta. Oleh karena itu, IBFT lebih sesuai untuk jaringan dengan kelompok validator yang terkelola daripada jaringan publik berskala sangat besar dengan peserta yang tidak dikenal. Pengembang perlu memperhitungkan kapasitas jaringan, latensi komunikasi, jumlah validator, serta risiko gangguan infrastruktur.

6. QBFT: evolusi konsensus untuk kebutuhan blockchain perusahaan

 

Quorum Byzantine Fault Tolerance atau QBFT merupakan protokol konsensus Byzantine Fault Tolerant yang memiliki hubungan pengembangan dengan keluarga IBFT. QBFT dirancang untuk memberikan finalitas blok, pengelolaan validator yang dinamis, dan ketahanan terhadap sejumlah validator yang mengalami kegagalan atau bertindak jahat. Protokol ini menjadi salah satu pilihan penting dalam pengembangan blockchain perusahaan karena memungkinkan jaringan berjalan tanpa mining dan menggunakan kelompok validator yang telah mendapatkan otorisasi.

Dalam dokumentasi Hyperledger Besu, QBFT direkomendasikan sebagai mekanisme konsensus kelas perusahaan untuk jaringan privat. Validator yang disetujui bergantian mengusulkan blok, kemudian blok tersebut harus memperoleh tanda tangan dari supermayoritas validator sebelum dimasukkan ke dalam blockchain. Proses penambahan maupun penghapusan validator juga dapat dilakukan melalui mekanisme pemungutan suara oleh validator yang telah ada. Dengan demikian, jaringan dapat mengatur keanggotaan tanpa harus mengubah seluruh sistem dari awal.

Salah satu karakteristik penting QBFT adalah kebutuhan terhadap ambang persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga validator. Secara matematis, toleransi kesalahan Byzantine dalam model klasik dapat dihitung menggunakan rumus:

\[ f=\left\lfloor\frac{N-1}{3}\right\rfloor \]

Huruf N menunjukkan jumlah validator, sedangkan f menunjukkan jumlah maksimum validator Byzantine yang dapat ditoleransi dalam kondisi asumsi protokol terpenuhi. Sebagai contoh, jaringan dengan tujuh validator dapat menoleransi hingga dua validator yang bermasalah. Jaringan membutuhkan sedikitnya lima validator untuk mencapai quorum yang diperlukan dalam contoh tersebut.

QBFT tidak berarti jaringan akan selalu berjalan meskipun banyak validator mengalami gangguan. Apabila lebih dari sepertiga validator tidak berpartisipasi, produksi blok dapat terhenti. Hal ini merupakan aspek penting yang harus dipahami oleh calon operator jaringan. Keamanan bukan hanya persoalan memilih algoritma, tetapi juga memastikan setiap validator memiliki server yang andal, konektivitas yang memadai, sistem pencadangan, pemantauan, dan prosedur pemulihan ketika terjadi gangguan.

7. Perbedaan IBFT dan QBFT: bukan sekadar pergantian nama

IBFT dan QBFT sama-sama termasuk keluarga konsensus BFT, tetapi keduanya bukan protokol yang identik. QBFT merupakan spesifikasi tersendiri yang berbasis pada keluarga algoritma IBFT dan dikembangkan dengan karakteristik finalitas langsung, pengelolaan validator dinamis, serta ketahanan Byzantine. Perbedaan implementasi dan parameter konfigurasi membuat pemilihan keduanya harus mempertimbangkan perangkat lunak, kompatibilitas, kebutuhan operasional, dan tujuan jaringan.

Aspek IBFT 2.0 QBFT
Keluarga Byzantine Fault Tolerance Byzantine Fault Tolerance
Model otorisasi Proof of Authority Proof of Authority
Mining Tidak Tidak
Finalitas Deterministik Deterministik
Persetujuan blok Supermayoritas validator Supermayoritas validator
Pengelolaan validator Mendukung perubahan validator Mendukung perubahan validator
Implementasi Besu dan GoQuorum Besu dan GoQuorum

Dalam praktiknya, Hyperledger Besu mendukung kedua mekanisme tersebut. QBFT menjadi rekomendasi untuk jaringan privat baru yang membutuhkan konsensus kelas perusahaan, sedangkan IBFT 2.0 tetap relevan untuk memahami jaringan yang telah dibangun menggunakan implementasi sebelumnya. Karena itu, pengembang tidak seharusnya memilih hanya berdasarkan nama protokol, melainkan melakukan pengujian kinerja, keamanan, dan kompatibilitas sebelum menentukan konfigurasi produksi.

8. Contoh implementasi blockchain dan ekosistem yang menggunakan IBFT serta QBFT

Keberadaan IBFT dan QBFT dapat ditemukan dalam berbagai perangkat lunak dan proyek infrastruktur blockchain. Hyperledger Besu merupakan salah satu contoh paling relevan karena mendukung keduanya dan menyediakan kompatibilitas dengan Ethereum Virtual Machine. Pengembang dapat membangun jaringan privat, mengatur daftar validator, menentukan waktu produksi blok, serta menerapkan smart contract menggunakan Solidity. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan membangun sistem pencatatan aset dan transaksi yang memiliki karakteristik mirip Ethereum, tetapi dengan tata kelola validator yang lebih terkontrol.

GoQuorum juga menjadi contoh implementasi dalam ekosistem Ethereum untuk kebutuhan jaringan perusahaan. Perangkat lunak ini mendukung QBFT dan IBFT, sehingga dapat digunakan sebagai referensi teknis dalam memahami penerapan konsensus BFT pada jaringan privat. Selain perangkat lunak, proyek ISBE di Spanyol merupakan contoh infrastruktur blockchain yang mendokumentasikan penggunaan Hyperledger Besu dengan QBFT. Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi ini dapat diterapkan dalam infrastruktur layanan blockchain yang dikelola secara terstruktur.

Penting untuk membedakan antara jaringan yang menggunakan protokol secara langsung dan perangkat lunak yang menyediakan dukungan terhadap protokol tersebut. Hyperledger Besu, misalnya, adalah klien blockchain, bukan nama sebuah jaringan publik tertentu. Pengembang dapat menggunakan Besu untuk membuat jaringan sendiri dengan konfigurasi QBFT atau IBFT 2.0. Dengan demikian, tidak semua proyek yang dibangun menggunakan Besu otomatis menggunakan QBFT, sebab mekanisme konsensusnya bergantung pada konfigurasi jaringan yang dipilih.

9. Layer 1, Layer 2, dan interoperabilitas: arsitektur yang memperluas kemampuan blockchain

Selain mekanisme konsensus, blockchain juga dapat dikelompokkan berdasarkan arsitekturnya. Layer 1 merupakan jaringan utama yang memiliki mekanisme konsensus dan keamanan sendiri. Bitcoin, Ethereum, Solana, dan Avalanche merupakan contoh jaringan Layer 1 dengan karakteristik masing-masing. Layer 1 menjadi fondasi tempat transaksi dicatat, aset diterbitkan, dan smart contract dijalankan sesuai kemampuan teknis jaringan. Pilihan Layer 1 akan memengaruhi biaya transaksi, kecepatan, keamanan, dan kompatibilitas aplikasi yang dibangun di atasnya.

Layer 2 merupakan teknologi yang dibangun untuk membantu meningkatkan kapasitas pemrosesan transaksi atau mengurangi beban jaringan utama. Arbitrum, Optimism, dan zkSync merupakan contoh ekosistem Layer 2 yang memanfaatkan pendekatan berbeda dalam memproses transaksi dan berinteraksi dengan Ethereum. Teknologi ini penting karena pertumbuhan pengguna blockchain dapat meningkatkan kebutuhan kapasitas jaringan. Tanpa solusi skalabilitas, biaya transaksi dan keterbatasan kapasitas dapat menjadi hambatan bagi penggunaan massal.

Sementara itu, interoperability protocol memungkinkan berbagai blockchain berkomunikasi dan bertukar informasi atau aset. Polkadot dan Cosmos mengembangkan pendekatan interoperabilitas dengan arsitektur masing-masing, sedangkan Chainlink CCIP menyediakan infrastruktur komunikasi lintas jaringan. Kemampuan ini semakin penting ketika aset digital, data, dan aplikasi tersebar di berbagai jaringan. Masa depan Web3 tidak harus bergantung pada satu blockchain saja, tetapi dapat berkembang menjadi ekosistem yang saling terhubung.

10. Protokol aplikasi Web3: dari DEX hingga tokenisasi aset dunia nyata

Setelah fondasi blockchain tersedia, lapisan berikutnya adalah protokol aplikasi. Salah satu kategori paling dikenal adalah Decentralized Finance atau DeFi,

asia.co.id

asia.co.id

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kepahiang Jajaki Pengembangan Infrastruktur Digital Web3 dan Blockchain, Tokenisasi Kopi serta Pariwisata Jadi Peluang Ekonomi Baru

Kepahiang Jajaki Pengembangan Infrastruktur Digital Web3 dan Blockchain, Tokenisasi Kopi serta Pariwisata Jadi Peluang Ekonomi Baru

October 13, 2026
BlockDAG Super Explorer Kembali Sinkron Penuh, Indikasi Positif bagi Stabilitas Jaringan dan Persiapan Ekosistem ASIC

BlockDAG Super Explorer Kembali Sinkron Penuh, Indikasi Positif bagi Stabilitas Jaringan dan Persiapan Ekosistem ASIC

July 9, 2026
Uji Penarikan BDAG dari Pionex Menjadi Sinyal Penting bagi Kepercayaan Investor

Uji Penarikan BDAG dari Pionex Menjadi Sinyal Penting bagi Kepercayaan Investor

September 23, 2026

MashAI Tunda Listing hingga 21 Juli: Strategi Memperkuat Utilitas atau Ujian Kepercayaan Komunitas?

July 11, 2026
Dashboard Staking BlockDAG Catat Rasio Keberhasilan Hanya 17,4 Persen

Dashboard Staking BlockDAG Catat Rasio Keberhasilan Hanya 17,4 Persen

1
Aplikasi X1 BlockDAG Kembali Aktif, Sinyal Positif di Tengah FUD dan Kepanikan Investor

Aplikasi X1 BlockDAG Kembali Aktif, Sinyal Positif di Tengah FUD dan Kepanikan Investor

1
BlockDAG (BDAG): Proyek Blockchain Generasi Baru yang Menggabungkan Kecepatan DAG dan Keamanan Proof-of-Work

BlockDAG (BDAG): Proyek Blockchain Generasi Baru yang Menggabungkan Kecepatan DAG dan Keamanan Proof-of-Work

0
SAFAR (SFR): Menggabungkan Keuangan Digital, Gaya Hidup, dan Ekonomi Perjalanan dalam Satu Ekosistem

SAFAR (SFR): Menggabungkan Keuangan Digital, Gaya Hidup, dan Ekonomi Perjalanan dalam Satu Ekosistem

0
Mengenal Anatomi Protokol Blockchain: Dari Proof of Work, Proof of Stake Hingga IBFT dan QBFT, Fondasi Baru Infrastruktur Ekonomi Digital

Mengenal Anatomi Protokol Blockchain: Dari Proof of Work, Proof of Stake Hingga IBFT dan QBFT, Fondasi Baru Infrastruktur Ekonomi Digital

October 31, 2026
DEX CryptoReceh Tambahkan Jaringan BlockDAG, Membuka Peluang Baru bagi Ekosistem BDAG

DEX Cryptoreceh Sukses Menambahkan Jaringan BlockDAG, Membuka Peluang Pertukaran Aset Digital BDAG di Ekosistem DEX

October 30, 2026
Auto Draft

BlockDAG Jadi Sorotan dalam Integrasi Multi-Chain EscrowHubs, Hadir Bersama Base, Polygon, BSC, dan Ethereum

October 26, 2026
RECEH DEX: Namanya RECEH, Fiturnya Premium! Ekosistem Web3 Terintegrasi Kulikan Profesional Developer Lokal

RECEH DEX: Namanya RECEH, Fiturnya Premium! Ekosistem Web3 Terintegrasi Kulikan Profesional Developer Lokal

October 25, 2026

Recent News

Mengenal Anatomi Protokol Blockchain: Dari Proof of Work, Proof of Stake Hingga IBFT dan QBFT, Fondasi Baru Infrastruktur Ekonomi Digital

Mengenal Anatomi Protokol Blockchain: Dari Proof of Work, Proof of Stake Hingga IBFT dan QBFT, Fondasi Baru Infrastruktur Ekonomi Digital

October 31, 2026
DEX CryptoReceh Tambahkan Jaringan BlockDAG, Membuka Peluang Baru bagi Ekosistem BDAG

DEX Cryptoreceh Sukses Menambahkan Jaringan BlockDAG, Membuka Peluang Pertukaran Aset Digital BDAG di Ekosistem DEX

October 30, 2026
Auto Draft

BlockDAG Jadi Sorotan dalam Integrasi Multi-Chain EscrowHubs, Hadir Bersama Base, Polygon, BSC, dan Ethereum

October 26, 2026
RECEH DEX: Namanya RECEH, Fiturnya Premium! Ekosistem Web3 Terintegrasi Kulikan Profesional Developer Lokal

RECEH DEX: Namanya RECEH, Fiturnya Premium! Ekosistem Web3 Terintegrasi Kulikan Profesional Developer Lokal

October 25, 2026

asia.co.id the Investment news

Follow Us

Browse by Category

  • Advertorial
  • Apps
  • Blockchain
  • Business
  • Edukasi
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Fashion
  • Gadget
  • Gaming
  • Hukum
  • Hukum
  • Investasi
  • Karir
  • Kripto
  • Market
  • Mobile
  • Music
  • News
  • NFT
  • Opini
  • Politics
  • Properti
  • Review
  • RWA
  • Science
  • Sports
  • Startup
  • Tech
  • Travel
  • Uncategorized
  • World

Recent News

Mengenal Anatomi Protokol Blockchain: Dari Proof of Work, Proof of Stake Hingga IBFT dan QBFT, Fondasi Baru Infrastruktur Ekonomi Digital

Mengenal Anatomi Protokol Blockchain: Dari Proof of Work, Proof of Stake Hingga IBFT dan QBFT, Fondasi Baru Infrastruktur Ekonomi Digital

October 31, 2026
DEX CryptoReceh Tambahkan Jaringan BlockDAG, Membuka Peluang Baru bagi Ekosistem BDAG

DEX Cryptoreceh Sukses Menambahkan Jaringan BlockDAG, Membuka Peluang Pertukaran Aset Digital BDAG di Ekosistem DEX

October 30, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Asia.co.id - asia.co.idasia.co.id.

No Result
View All Result
  • Home
  • Transactions
    • Checkout

© 2026 Asia.co.id - asia.co.idasia.co.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by