JAKARTA — Perdebatan mengenai infrastruktur jaringan BlockDAG kembali mengemuka setelah muncul dashboard pemantauan RPC yang memperlihatkan perbedaan sangat besar antara sejumlah endpoint Remote Procedure Call (RPC). Persoalan menjadi lebih serius karena dua endpoint yang sama-sama berkaitan dengan jaringan BlockDAG—rpc.bdagscan.com dan rpc.blockdag.engineering—dilaporkan memiliki Chain ID yang sama, 1404, tetapi menunjukkan ketinggian blok yang berbeda secara ekstrem.
Dalam dashboard yang dianalisis, rpc.blockdag.engineering tercatat berada pada blok 18.419.169 dan berstatus fully synced. Sementara rpc.bdagscan.com berada pada blok 17.120.515 dan diberi label FORK, dengan selisih sekitar 1.298.654 blok. Beberapa endpoint lain juga ditandai sebagai fork.
Temuan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa BlockDAG gagal, bermasalah secara permanen, atau merupakan proyek penipuan. Namun, bagi investor dan pengguna jaringan, kondisi ini merupakan persoalan teknis yang tidak boleh dianggap sepele, karena RPC adalah salah satu pintu utama yang digunakan wallet, aplikasi, bursa, explorer, dan layanan Web3 untuk membaca serta berinteraksi dengan blockchain.
RPC Bukan Blockchain, tetapi RPC Adalah Pintu Menuju Blockchain
Banyak pengguna kripto menganggap RPC sebagai sekadar alamat internet. Padahal, RPC merupakan infrastruktur komunikasi yang memungkinkan wallet atau aplikasi mengirim permintaan kepada sebuah node blockchain.
Ketika pengguna membuka wallet dan melihat saldo BDAG, wallet tidak “melihat” blockchain secara langsung. Wallet meminta informasi kepada node melalui RPC.
Secara sederhana:
Wallet → RPC → Node → Blockchain
Permintaan seperti saldo alamat, nomor blok terbaru, transaksi, kontrak pintar, hingga pengiriman transaksi dapat bergantung pada node yang diakses melalui RPC.
Karena itu, apabila dua RPC memberikan data dari rantai yang berbeda, pengguna berpotensi memperoleh informasi yang berbeda pula.
Masalah menjadi lebih serius apabila dua jaringan menggunakan Chain ID yang sama. Chain ID berfungsi sebagai identitas jaringan untuk mencegah transaksi dikirim ke jaringan yang tidak dimaksudkan. Namun, Chain ID saja tidak membuktikan bahwa seluruh riwayat blockchain identik.
Inilah inti persoalan BlockDAG saat ini.
RPC.blockdag.engineering versus RPC.bdagscan.com
Berdasarkan halaman resmi BlockDAG yang dapat diakses saat ini, BlockDAG masih mencantumkan:
- Network: BlockDAG Mainnet
- RPC:
rpc.bdagscan.com - Chain ID: 1404
- Explorer:
bdagscan.com - Tipe jaringan: EVM-compatible
Informasi tersebut juga tercantum dalam halaman konfigurasi wallet resmi BlockDAG. (BlockDAG Network)
Artinya, dari sudut pandang dokumentasi resmi BlockDAG, rpc.bdagscan.com masih diposisikan sebagai RPC utama.
Namun muncul informasi yang berlawanan dari BDAG Community, sebuah komunitas yang mengklaim menjalankan infrastruktur BlockDAG sejak genesis. Situs tersebut menyatakan bahwa hanya satu jaringan yang dianggap canonical dan secara eksplisit memperingatkan pengguna agar tidak menggunakan rpc.bdagscan.com.
BDAG Community menyatakan bahwa rpc.bdagscan.com memiliki Chain ID 1404 tetapi mempunyai block hash yang berbeda dari chain yang mereka anggap canonical. Mereka kemudian merekomendasikan rpc.blockdag.engineering sebagai public RPC canonical. (BDAG Community)
Inilah yang membuat persoalan menjadi jauh lebih serius daripada sekadar perbedaan server.
Apa Arti “Fork”?
Dalam blockchain, fork dapat terjadi ketika jaringan terpecah sehingga sebagian node mengikuti satu rangkaian blok sementara node lain mengikuti rangkaian berbeda.
Bayangkan blockchain seperti satu jalan utama. Semua kendaraan seharusnya bergerak pada jalur yang sama:
Blok 1 → Blok 2 → Blok 3 → … → Blok terbaru
Jika terjadi percabangan:
Blok X → Chain A
dan
Blok X → Chain B
maka setelah titik percabangan tersebut, kedua jaringan dapat mempunyai sejarah transaksi yang berbeda.
Karena itu, angka block height saja belum cukup untuk menentukan jaringan mana yang benar. Pemeriksaan yang jauh lebih kuat adalah membandingkan block hash pada nomor blok yang sama.
Jika dua RPC mengembalikan hash berbeda untuk blok yang sama, berarti terdapat bukti teknis bahwa keduanya tidak berada pada sejarah chain yang identik.
BDAG Community mengklaim telah menggunakan pendekatan tersebut untuk menyimpulkan bahwa rpc.bdagscan.com menyajikan rantai yang berbeda. (BDAG Community)
Mengapa Screenshot Ini Patut Mendapat Perhatian?
Dashboard yang dianalisis menunjukkan:
rpc.blockdag.engineering: 18.419.169 — IN SYNCrms-bdag-rpc.de/api/rpc-live: 18.419.169 — IN SYNCrpc.welshdag.trade: 18.419.167 — IN SYNCrpc.dvdmining.com: 17.755.804 — FORKrpc.bdagscan.com: 17.120.515 — FORKrpc.west.bdag-us.org: 14.828.399 — FORKrpc.east.bdag-us.org: 14.743.460 — FORKrpc.capadag.com: OFFLINE
Data tersebut menunjukkan adanya kelompok endpoint yang mengikuti ketinggian blok sekitar 18,42 juta, sementara beberapa endpoint lain terpaut ratusan ribu hingga jutaan blok.
Khusus rpc.bdagscan.com, perbedaannya sekitar 1,3 juta blok dibanding node canonical yang ditampilkan dashboard.
Yang menarik, masalah tersebut bukan semata-mata karena latency. rpc.bdagscan.com pada screenshot mempunyai latency sekitar 313 milidetik, sehingga servernya masih dapat memberikan respons. Persoalannya adalah data blockchain yang dilayani oleh endpoint tersebut.
Chain ID 1404 Tidak Cukup Menjawab Persoalan
Di sinilah publik harus berhati-hati.
Jika seseorang mengatakan:
“Keduanya Chain ID 1404, berarti pasti blockchain yang sama.”
Kesimpulan tersebut terlalu sederhana.
Situs resmi BlockDAG mencantumkan Chain ID 1404 untuk rpc.bdagscan.com. (BlockDAG Network)
Di sisi lain, BDAG Community juga menyebut chain canonical mereka menggunakan Chain ID 1404 atau 0x57c, tetapi merekomendasikan RPC rpc.blockdag.engineering. (BDAG Community)
Bahkan direktori jaringan EVM ChainList juga mencatat BlockDAG dengan Chain ID 1404 dan explorer bdagscan.com. (ChainList)
Dengan demikian, persoalan sebenarnya bukan lagi:
“Berapa Chain ID BlockDAG?”
Jawabannya relatif jelas: 1404.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Chain mana yang memiliki riwayat blok canonical?”
Jawaban atas pertanyaan tersebut harus dibuktikan melalui genesis block, block hash, parent hash, state root, transaction root, peer network, dan konsensus—bukan hanya melalui nama explorer atau Chain ID.
Skenario Terbaik: Konflik Infrastruktur Berhasil Diselesaikan
Skenario paling optimistis adalah konflik ini ternyata merupakan masalah koordinasi, konfigurasi, sinkronisasi, atau perbedaan implementasi node yang kemudian berhasil diselesaikan.
Dalam skenario ini, tim BlockDAG dan komunitas dapat melakukan rekonsiliasi chain, mengumumkan secara transparan chain canonical, memperbarui seluruh RPC, explorer, wallet integration, bursa, dan dokumentasi.
Jika hal tersebut terjadi, dampaknya terhadap investor dapat menjadi relatif positif.
Saldo BDAG dapat tetap aman pada chain canonical, sementara endpoint yang bermasalah diperbaiki atau ditinggalkan. Bursa dan penyedia layanan kemudian dapat melakukan standardisasi terhadap satu chain.
Bahkan konflik tersebut dapat menjadi pelajaran penting bagi BlockDAG untuk memperkuat desentralisasi, memperbanyak node independen, menyediakan dokumentasi konsensus yang lebih transparan, serta memberikan alat verifikasi chain kepada publik.
Dalam skenario terbaik, masalah hari ini justru menjadi titik balik menuju infrastruktur yang lebih matang.
Skenario Menengah: Chain Berhasil Dipisahkan dan Pasar Mengalami Gangguan
Skenario kedua adalah terjadi chain split yang nyata, tetapi komunitas dan pengembang berhasil menentukan chain canonical.
Konsekuensinya bisa cukup berat dalam jangka pendek.
Bursa mungkin harus menghentikan deposit dan withdrawal. Wallet dapat menampilkan saldo yang berbeda. Explorer dapat memberikan informasi yang tidak konsisten. Staking, kontrak pintar, mining, dan aplikasi Web3 yang menggunakan RPC berbeda dapat mengalami ketidaksesuaian.
Investor mungkin melihat saldo yang sebelumnya tersedia kemudian tidak muncul ketika RPC diganti.
Namun kondisi tersebut tidak selalu berarti token hilang.
Yang menentukan adalah chain tempat aset tersebut benar-benar tercatat serta chain mana yang akhirnya diakui oleh pengembang, validator/miner, bursa, dan ekosistem.
Dalam skenario ini, investor membutuhkan transparansi dan prosedur migrasi yang jelas.
Skenario Terburuk: Fragmentasi Permanen
Risiko terbesar adalah apabila konflik tersebut berkembang menjadi dua jaringan yang bertahan secara permanen.
Misalnya:
Chain A terus dikembangkan oleh satu kelompok.
Chain B terus berjalan melalui infrastruktur berbeda.
Keduanya menggunakan nama BlockDAG dan Chain ID yang sama atau kompatibel.
Jika keadaan tersebut berlangsung, pasar dapat menghadapi kekacauan.
Bursa harus menentukan chain mana yang diterima. Wallet harus menentukan RPC mana yang digunakan. Explorer dapat menunjukkan saldo berbeda. Kontrak pintar dapat mempunyai keadaan berbeda pada masing-masing chain.
Yang paling berbahaya adalah apabila pengguna melakukan deposit ke endpoint yang salah sementara bursa hanya mengakui chain lainnya.
Dalam skenario ekstrem, aset yang secara teknis “ada” pada satu chain bisa tidak dapat digunakan pada ekosistem yang mengakui chain lainnya.
Risiko terbesar bukan hanya kehilangan nilai pasar, tetapi hilangnya kepastian mengenai ledger mana yang menjadi sumber kebenaran.
Apa Nasib Investor Jika Skenario Terburuk Terjadi?
Nasib investor akan sangat bergantung pada tiga faktor.
Pertama, penguasaan private key.
Investor yang memegang private key sendiri memiliki posisi yang lebih baik karena dapat mengakses alamatnya pada chain yang kompatibel, selama chain tersebut masih berjalan dan asetnya benar-benar tercatat di sana.
Kedua, pengakuan bursa.
Jika mayoritas bursa memilih satu chain, likuiditas kemungkinan terkonsentrasi di chain tersebut.
Ketiga, kejelasan pengembang.
Jika tim memberikan keputusan teknis yang transparan, proses migrasi dapat dilakukan. Sebaliknya, jika terjadi saling klaim tanpa bukti teknis, ketidakpastian dapat menekan kepercayaan pasar.
Karena itu, investor tidak seharusnya hanya melihat harga BDAG. Mereka harus memperhatikan integritas ledger.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?
Untuk sementara, pendekatan paling rasional adalah jangan panik, tetapi jangan pula mengabaikan risiko.
Investor sebaiknya tidak mengirim BDAG hanya berdasarkan rekomendasi RPC dari grup Telegram, WhatsApp, Facebook, atau influencer.
Sebelum transaksi bernilai besar dilakukan, verifikasi:
- Chain ID.
- Latest block.
- Block hash.
- Genesis hash.
- Parent hash.
- Status node.
- RPC yang digunakan bursa.
- Explorer yang digunakan.
- Konfirmasi resmi pengembang.
- Apakah bursa mengakui chain tersebut.
Yang paling penting, jangan hanya membandingkan Chain ID 1404.
Masa Depan BlockDAG Ditentukan Oleh Transparansi
BlockDAG masih memiliki peluang untuk menyelesaikan persoalan ini.
Namun semakin lama terdapat dua sumber informasi yang bertentangan, semakin besar pula risiko reputasi.
Situs resmi BlockDAG saat ini masih menyatakan bahwa rpc.bdagscan.com adalah RPC resmi. (BlockDAG Network)
Sebaliknya, BDAG Community menyatakan bahwa rpc.blockdag.engineering adalah endpoint canonical dan memperingatkan pengguna agar tidak memakai rpc.bdagscan.com. (BDAG Community)
Publik tidak seharusnya dipaksa memilih berdasarkan kepercayaan semata.
Blockchain seharusnya dapat diverifikasi secara teknis.
Karena itu, solusi paling kredibel adalah publikasi bukti yang dapat diperiksa secara independen: genesis block, block hash, peer list, consensus rules, node software, dan metode menentukan canonical chain.
Kesimpulan: Bukan Saatnya Panik, Tetapi Juga Bukan Saatnya Menutup Mata
Persoalan rpc.bdagscan.com versus rpc.blockdag.engineering merupakan salah satu isu infrastruktur paling penting yang harus dipahami komunitas BlockDAG.
Fakta yang tersedia menunjukkan adanya kontradiksi publik. Dokumentasi resmi masih menunjuk rpc.bdagscan.com sebagai RPC BlockDAG Mainnet dengan Chain ID 1404, sementara BDAG Community mengklaim endpoint tersebut berada pada chain yang berbeda dan merekomendasikan rpc.blockdag.engineering sebagai canonical RPC. (BlockDAG Network)
Perbedaan tersebut belum semestinya diterjemahkan sebagai vonis bahwa BlockDAG telah gagal atau investor pasti kehilangan aset.
Namun risikonya juga tidak boleh diremehkan.
Skenario terbaik: konflik berhasil diverifikasi dan diselesaikan, infrastruktur disatukan, dan kepercayaan pasar pulih.
Skenario menengah: terjadi reorganisasi atau migrasi chain yang mengakibatkan gangguan sementara pada wallet, bursa, staking dan transaksi.
Skenario terburuk: terjadi fragmentasi permanen, dua chain bertahan, likuiditas terpecah, dan investor menghadapi ketidakpastian mengenai chain yang diakui pasar.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan siapa yang paling keras mengklaim dirinya benar.
Pertanyaannya adalah:
“Blok mana yang dapat diverifikasi sebagai canonical?”
Jika BlockDAG mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan bukti teknis yang dapat diperiksa publik, ketidakpastian dapat berkurang.
Sebaliknya, jika perbedaan antara rpc.bdagscan.com dan rpc.blockdag.engineering terus berlangsung tanpa penjelasan teknis yang transparan, maka risiko terbesar bukan sekadar harga BDAG turun.
Risiko terbesar adalah ketika investor tidak lagi memiliki kepastian mengenai ledger mana yang sebenarnya mereka miliki.












