Sirkel cafe antara cinta dan falsafah di secangkir robusta

Sirkel cafe antara cinta dan falsafah di secangkir robusta

Sirkel cafe antara cinta dan falsafah di secangkir robusta

 

Yoki, pemuda berpostur tubuh tambun ini adalah orang di balik sirkel cafe. Mengunjungi kepahiang tentu ada hal baru yang belum pernah ada sebelumnya. Banyak cerita menarik dan melahirkan tawa yang tumpah dalam diskusi kami sepanjang perjalanan dari  kota bengkulu ke kepahiang. Mulai dari cerita bagaimana seorang pelanggan baru memesan vietnam drip dan sampai ke cerita yang kami pikir ini layak untuk dijadikan menu stand up comedy.

 

Sebelumnya ada beberapa coffee shop yang buka di kepahiang seperti black white dan meet up. Tetapi sirkel, kenapa saya harus jatuh hati untuk sekali lagi setelah sebelumnya saya memesan kopi di racikan barista di kota kepahiang yang dingin di ketinggian 500 mdpl. Saya belum pernah menemukan sesuatu yang memukau yang bisa saya sandingkan dengan coffee shop setidaknya yang ada di kota bengkulu. Tampilan yang mencuri hati saya untuk mampir dan mencicipi hasil seduhan tangan seorang barista sambil bertanya sesuatu dan si barista sedikit menceritakan sesuatu, terlalu jauh dari apa yang saya harapkan.

 

Saya selalu sering bersikap usil seperti memesan seduhan arabika-robusta dengan persentase takaran tertentu. Dan mereka berhasil membuat saya kecewa karena apa yang saya bayangkan tidak bisa mereka wujudkan. Untuk sekelas coffee shop moderen dengan konsep retro, sirkel adalah sesuatu bagi saya. Nanti kita bicara tentang apakah seduhannya agak terasa watery atau mungkin kurang sempurna untuk dapat disebut heavy body. Tetapi, setidaknya sirkel cafe mampu memenuhi 70 hingga 80 % ekspektasi pelanggan.

 

Para sahabat selalu memberi saya julukan “the legend od two brew”, tubruk. Memesan secangkir kopi tubruk yang diracik dari berbagai asal kopi adalah kebiasaan saya bagaimana saya menemukan sensasi ngopi penuh prestise. Tatapan nakal dari sudut meja sebelah kadang membuat saya terusik dan ingin segera melemparkan beragam pertanyaan dari yang sederhana sampai rumus yang membuat otak mereka mendidih 120 derajat fahrenheit. Tapi ini timur bung, dan privasi mereka adalah absolutely.

 

Dari alis mereka saya bisa menduga bahwa mereka mencuri pandangan ke gelas saya yang menurut hukum mereka mungkin kuno dan norak. Seorang pasangan yang mungkin mereka sedang menikmati kencan pertama, tidak berani menyeruput segelas hidangan coffee latte hanya karena takut merusak lukisan bunga tulip atau lukisan hati yang dibentuk sangat indah oleh seorang barista berambut gondrong dan berkaca mata minus itu. Seorang pemuda tampan di meja sebelah kanan saya sedang menatap secangkir kecil espresso. Sementara saya sambil mendengar alunan musik klasik dengan didampingi kopi tubruk ala dapur rumahan.

 

Kalau saja mereka tahu bahwa saya juga mampu memesan secangkir coffee latte sekaligus dengan red eye pasti mereka akan meminta maaf karena telah berfikir buruk tentang the legend of two brew.

 

Di sirkel cafe, sebuah coffee shop yang berada tepat di jantung ibu kota kabupaten kepahiang. Saya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak saya temukan untuk menu kabanggaan saya “kopi tubruk”. Disini musik apa pun yang mengiringinya tetap akan berpadu apik. Mengingatkan pada berjuta romantika dalam beragam sentuhan aroma kopi robusta, arabika dan liberika seperti harmoni yang membuat jiwa yang mulai lelah ini seakan tiadak akan pernah takut menemui hari tua. Karena bagiku tua hanya soal hitungan angka. Tapi semangat ?, semangat tidak akan terikat oleh ukuran angka.

 

Di sirkel cafe, kau dan aku akan melihat masa depan dan tanah pengharapan begitu realistis.