Dampak Resesi terhadap Bisnis Industri Otomotif

Dampak Resesi terhadap Bisnis Industri Otomotif – Tidak bisa terbantahkan lagi, semenjak terjadinya wabah corona yang melanda dunia, perekonomian di berbagai negara menurun drastis. Indonesia bukan pengecualian. Resesi di tahun 2020 ini membuat banyak pihak kebingungan. Bukan hanya masyarakat, bahkan para pengusaha juga ikut kesulitan menghadapi hal ini, termasuk di industri otomotif.

Di tengah-tengah resesi ini, daya beli masyarakat jelas menurun. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari sajaa sudah sulit, apalagi untuk memberi barang-barang mewah seperti mobil atau motor. Melihat daya beli masyarakat yang menurun, tidak heran jika akhirnya banyak produsen otomotif yang bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang supaya tidak gulung tikar.

Mengikuti anjuran masing-masing pemerintah di setiap negara, para pengusaha bisnis industri otomotif banyak yang meliburkan pabrik produksinya. Meskipun begitu, semenjak kebijakan lock down sudah dilonggarkan, pabrik-pabrik tersebut mulai kembali berproduksi walaupun jika membicarakan mengenai penjualan jelas masih jauh dari keadaan normal.

Supaya resesi tidak terlalu mempengaruhi perkembangan dunia otomotif, banyak perusahaan otomotif besar yang mencari berbagai alternatif untuk bertahan. Menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, face shield dan juga physical distancing tidak boleh diabaikan. Selain itu, produsen juga harus memastikan bahwa pemasok siap untuk memberikan suku cadang yang dibutuhkan untuk produksi kembali.

Meskipun secara produksi dan pembelian mobil unit baru menurun, sebenarnya bisnis industri otomatif tidak mati sepenuhnya. Jika Anda terlibat dalam bisnis reparasi kendaraan, penjualan suku cadang masih cukup tinggi. Namun jika Anda terlibat dalam jual beli kendaraan, baik itu bekas maupun baru, mau tidak mau Anda harus menyesuaikan harga jual dengan harga baru yang saat ini sangatlah rendah.

Penurunan harga ini diharapkan bisa mengembalikan setidaknya modal yang sudah dikeluarkan. Sekali pun tingkat pembelian tidak langsung naik drastis, setidaknya penurunan harga ini bisa membantu orang-orang yang terlibat dalam bisnis otomotif masih bisa bertahan. Mengharapkan penjualan kembali ke titik stabil masih belum bisa dilakukan.

Walaupun sedang mengalami penurunan, pengusaha bisnis industri otomotif, terutama yang beroperasi di Indonesia, mencoba untuk tidak melakukan pemutusan kontrak kerja dengan para pegawainya. Setidaknya itu diberlakukan kepada para pegawai tetap. Ribuan pegawai kontrak terpaksa harus mengalami nasib yang tidak cukup beruntung.

Akan tetapi, ini tidak berarti pegawai tetap bisa mendapatkan upah penuh. Masih dalam rangka mengencangkan ikat pinggang selama masa pandemi ini belum berakhir, banyak produsen kendaraan yang memberikan upah bulanan pada beberapa perusahaan otomotif mengalami penyesuaian. Ini juga disesuaikan dengan jam kerja yang berkurang dan beberapa faktor lainnya.

Keadaan seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Dampak resesi yang terjadi karena adanya pandemi virus corona ini, terutama di bidang bisnis industri otomotif,  juga terjadi di negara-negara lain. Cina, selaku negara awal mula tersebarnya penyakit corona, mengalami penurunan yang drastis. Apalagi, 40 juta warganya terlibat dalam industri pembuatan otomotif ini.

Meskipun begitu, para pengusaha di bidang ini, yang menyebar di berbagai negara berusaha keras untuk membantu menangani corona dengan caranya tersendiri. Misalnya saja dengan membuat alat pelindung diri (APD) seperti yang dilakukan oleh produsen Ferrari yang menbuat ventilator yang dimodifikasi di bagian katupnya. Bahkan Toyota, produsen kendaraan asal Jepang, memproduksi face shield atau pelindung wajah sebagai salah satu usaha memerangi pandemi virus corona.

Di tengah badai corona dan masa resesi yang melanda di beberapa negara, termasuk Indonesia, diharapkan semua industri bisa bertahan. Begitu juga dengan usaha bisnis industri otomotif. Semua pihak jelas berharap bisa melalui masa-masa ini dengan selamat tanpa harus kehilangan. Efa

Leave A Reply

Your email address will not be published.